Ancaman Resesi 2023! Industri Pangan dan Energi Bakal Jadi Kunci untuk Survive

Pemerintah kini tengah berfokus menjaga ketahanan industri pangan dan energi untuk menghindari ancaman resesi 2023. Ekonom senior Indef Aviliani mengatakan kedua komponen tersebut menentukan fundamental perekonomian di tengah berbagai gejolak dari global akibat perang Rusia-Ukraina. Apalagi, Indonesia memiliki potensi besar dan kaya akan produksi pangan sendiri.

“Menurut saya pemerintah mestinya lebih concern pada industrinya. Satu yang kita butuhkan sekarang, sudah kejadian saat pandemi, itu industri pangan. Jadi industri pangan itu penting. Apalagi ada ancaman akan krisis pangan dunia. Jadi kita harus ambil momentum itu karena kita lebih punya potensi dibanding negara lain,” ujarnya dalam diskusi media pada Selasa, 13 Desember.

Selain itu, Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang cukup, tinggal bagaimana memaksimalkan pengolahannya agar tidak bergantung pada impor untuk mengatasi ancaman resesi 2023. “Kita punya energi di mana-mana. Jadi pangan dan energi menurut saya industri pokok penting yang perlu dipikirin oleh pemerintah untuk tahan terhadap resesi,” jelasnya.

Untuk mengembangkan dan memperkuat ketahanan pangan, Aviliani menyarankan pemerintah untuk melihat produk apa yang bisa dijadikan andalan baru. Sehingga, tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tapi juga bisa menjadi andalan ekspor baru.

Kebutuhan Pangan dan Energi Masyarakat Bakal Jadi Prioritas Utama Selama Resesi 2023

“Mungkin ke depan perlu membuat lagi di departemen perindustrian ya, perlu membuat apa lagi, mana sih komoditas yang punya kompetisi yang tinggi untuk kita berikan insentif dan itu menjadi andalan ekspor kita,” kata dia.

Menurutnya, penambahan komoditas sebagai andalan baru ekspor ini nantinya berdampak pada perekonomian nasional. Selain itu, kekhawatiran akan penurunan ekspor di tengah meredanya boom komoditas bisa terhindarkan. Ini bisa menjadi kunci untuk menghadapi ancaman resesi 2023.

“Kalau kita enggak mau memperbaiki struktur ekspor kita yang terjadi kita selalu akan defisit terus neraca nya. Ini tidak bagus karena nanti dampaknya ke penurunan nilai tukar dan perekonomian. Jadi harus diperbaiki,” pungkasnya.

Sebagai informasi, kondisi perekonomian global saat ini memang tengah dihadapkan oleh ancaman krisis pangan dan energi akibat perang Rusia-Ukraina. Perang ini menyebabkan harga energi melonjak dan pangan langka akibat terganggunya rantai pasok. Apa persiapan yang telah Kamu lakukan untuk mengatasi ancaman resesi 2023?

Ekonomi

Harga Kedelai Sudah Murah, Produsen Tempe dan Tahu Malas Turunkan Harga?

Meski Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Mendag Zulhas) mengklaim harga kedelai sudah turun, harga tahu dan tempe di pasar wilayah Jakarta masih tetap sama. Sebelumnya, Zulhas menuturkan harga kedelai akan turun dari Rp14 ribuan per kg menjadi Rp12 ribu hingga Rp11 ribu per kg. Penurunan harga itu seiring dengan kedelai impor yang telah masuk ke Indonesia. […]

Read More
Ekonomi

Perintah Presiden Jokowi: PT Pertamina Harus Naikkan Produksi Blok Rokan Jadi 400 Ribu Bph

Presiden Jokowi telah meninjau proses produksi minyak dan gas di kawasan PT Pertamina Hulu Rokan Dumai, Riau pada Kamis (5/1) kemarin. Saat tinjauan tersebut Jokowi minta penjelasan ke Dirut Pertamina Nicke Widyawati soal produksi di blok tersebut usai diambil alih Indonesia. “Saya menanyakan Dirut Pertamina produksinya naik atau turun, ya naik,” kata Jokowi pada Jumat, […]

Read More
Ekonomi

3 Alasan Kuat Bank Indonesia Luncurkan Rupiah Digital: Tak Ada Lagi Biaya Transfer Antar Bank

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan tiga alasan mengapa pihaknya harus mengeluarkan uang digital bank sentral (rupiah digital) atau Central Bank Digital Currency (CBDC). Pertama, karena BI adalah satu-satunya lembaga yang berwenang mengeluarkan mata uang, termasuk rupiah dalam bentuk digital. “Karena BI adalah satu-satunya lembaga negara, sesuai Undang-Undang yang berwenang mengeluarkan digital currency yang […]

Read More